sewaambulancejenazah.life

Gambar dari Freepik

Hati atau liver adalah organ seukuran bola tepat di bawah tulang rusuk di sisi kanan perut seseorang. Hati berperan penting dalam mencerna makanan dan membersihkan tubuh dari zat beracun. Namun jika terjadi masalah pada liver, maka ini merupakan sesuatu yang serius dan tidak bisa dianggap enteng, karena hal ini tentunya akan mengancam nyawa seseorang.

Menurut dokter spesialis penyakit dalam, konsultan gastoenterohepatologi, RS Awal Bros Batam, dr. Arif Koeswandi, SpPD-KGEH, Hati kronis adalah peradangan pada hati yang berlangsung selama bertahun-tahun (kronis). Hati kronis disebabkan oleh hepatitis, di mana kasus hepatitis C cukup jarang terjadi, sekitar 3 persen. Namun, konsekuensi yang muncul akibat perlemakan hati bisa mencapai 30 persen.

“Jadi sudah bergeser dari virus menjadi sekarang lebih mungkin terkena penyakit liver kronis akibat gaya hidup,” kata dr. Bijaksana. Ia menjelaskan penyakit hati kronis disebabkan oleh perlemakan hati, ada faktor risiko seseorang yang mengalami obesitas (kegemukan), kemudian kolesterol tinggi, hingga diabetes. Dari faktor penyebab penyebabnya yaitu tingkat pola makan yang tidak teratur hingga kurang olahraga, jelasnya.

Gejala yang timbul dari liver yang kronis bisa dikatakan 90 persen tanpa gejala bahkan terlihat seperti orang sehat. Namun secara fisik, saat tubuh mulai terasa lemas, nafsu makan menurun dan Anda mudah merasa lelah. “Kadang bisa muncul mata kuning, tapi lebih sering tidak ada gejala,” ujarnya. Jadi perlu adanya deteksi dini, jangan tunggu sampai hati terpapar kronis. Karena apapun penyebabnya, bila Anda mengidap Hepatitis B, C dan perlemakan hati, pada akhirnya bisa berujung pada sirosis dan kanker hati. “Jadi jika seseorang yang memiliki faktor risiko malah bisa tertular Hepatitis B, C, seperti ibu hamil yang bisa ditularkan ke bayi yang belum lahir dan jika tidak diobati akan berlanjut hingga lahir hingga usia lanjut, disarankan melakukan deteksi dini sebelum komplikasi terjadi. muncul, "jelasnya.

Jika seseorang terinfeksi, seperti ibu hamil, hal itu dapat menular ke bayinya hingga menjadi kronis, dan biasanya akan terjadi pada usia 15 hingga 20 tahun. Memasuki usia 30 tahun ke atas, komplikasi seperti sirosis dan kanker hati akan muncul. Menurut dokter Arif, jika mengidap penyakit hati kronis tetap bisa diobati, namun jika sudah menyebar hingga komplikasi seperti sirosis dan kanker hati, harus ditangani dengan transplantasi hati dan pembedahan. Dokter akan mendeteksi secara dini untuk mengetahui seseorang mengidap lever kronis dengan biopsi (pengambilan jaringan tubuh untuk pemeriksaan laboratorium).

Deteksi Dini dengan Alat Fibroscan

“Perawatan yang paling penting dilakukan dengan deteksi dini, dan semua perawatan tersedia dan diberikan antivirus,” dikatakan Dr. Arif. Deteksi dini penyakit hati kronis dapat dilakukan dengan teknologi kedokteran dengan menggunakan fibroscan, yaitu alat non invasif (tanpa pendarahan) yang dapat digunakan untuk menggantikan biopsi guna memeriksa tingkat kerusakan jaringan hati (fibrosis) secara tepat dan akurat.

Untuk menghindari penyakit hati kronis, kenali hati dengan deteksi dini. Misalnya untuk Hepatitis B dengan memeriksakan darah di laboratorium dan sudah bisa diketahui positif atau tidak. Ultrasonografi dapat mendeteksi lever dan lever, serta memeriksa darah dan kadar kolesterol. “Jika sudah melalui rangkaian ini dan mengetahui kondisi liver saat ini, maka akan diikuti dengan sejauh mana kerusakan liver dengan fibroscan,” kata dr Arif.

Narasumber:

dr. Arif Koeswandi, SpPD – KGEH

Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Gastoenterohepatologi, Rumah Sakit Awal Bros Batam

Postingan Deteksi Dini Penyakit Hati Kronis dengan Fibro Scan muncul pertama kali di RS Awal Bros.

Leave a Reply