sewaambulancejenazah.life

Gambar dari Freepik

Setiap orang tua ingin anaknya tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas dan bahagia. Agar anak mencapai tumbuh kembang yang baik, orang tua perlu memberikan stimulasi yang menyeluruh kepada anak. Stimulasi sebaiknya diberikan sejak dini yaitu pada usia 0-5 tahun. Masa jaman ini biasa dikenal dengan masa keemasan atau usia emas. Periode emas atau Golden usiasangat menentukan dan berpengaruh pada perkembangan anak selanjutnya.

Di masa usia ini, otak dan fisik anak berkembang sangat pesat. Sehingga orang tua harus benar-benar memperhatikan perkembangan awal anak agar bisa tumbuh dan berkembang secara optimal. Kebutuhan dasar anak yang perlu dipenuhi oleh orang tua adalah pemberian ASI, gizi yang tepat, pengobatan, rekreasi, bermain, kebersihan individu, kebersihan lingkungan, kebutuhan cinta, dan kebutuhan stimulasi mental untuk proses belajar anak.

Dalam mencapai tingkat perkembangannya, setiap anak memiliki keunikan dan karakteristik yang berbeda. Tetapi secara umum, mereka mulai mempelajari keterampilan yang sama pada waktu yang sama. Misalnya, bayi yang sehat dapat merangkak pada usia 5 atau 9 bulan dan keduanya normal. Orang tua diharapkan tidak terlalu cemas dan cemas jika perkembangan anak tertinggal atau sedikit lebih lambat dari anak lain pada umumnya. Karena keterlambatan dalam skala kecil hanya terjadi sesaat atau dalam jangka waktu tertentu dan dapat berubah seiring waktu. Namun jika keterlambatan terjadi secara terus menerus atau dalam skala besar maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga ahli karena kondisi tersebut dapat menimbulkan masalah bagi anak di kemudian hari.

Setiap perkembangan yang telah dicapai anak sebelumnya dapat menjadi penanda bagi orang tua untuk menentukan waktu yang tepat bagi anak untuk mempelajari suatu keterampilan baru. Pemantauan perkembangan anak harus dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Perkembangan anak pada fase awal meliputi beberapa aspek kemampuan fungsional yaitu kognitif, motorik, emosional, sosial, dan bahasa. Kekurangan pada salah satu aspek pembangunan dapat mempengaruhi aspek pembangunan selanjutnya. Seorang anak dapat mengalami keterlambatan perkembangan hanya dalam satu aspek perkembangan, atau bisa juga dalam dua atau lebih aspek perkembangan.

Keterlambatan perkembangan global adalah keadaan keterlambatan perkembangan yang signifikan dalam dua atau lebih aspek pembangunan. Sekitar 5 sampai 10% anak diperkirakan mengalami keterlambatan perkembangan. Data tentang kejadian keterlambatan perkembangan umum tidak pasti, tetapi diperkirakan 1 sampai 3% anak di bawah usia 5 tahun mengalami keterlambatan perkembangan secara umum.

Istilah keterlambatan perkembangan umumnya bisa digunakan untuk anak di bawah usia 5 tahun. Jika usia anak lebih dari lima tahun tetapi masih menunjukkan keterlambatan, kondisi ini disebut dengan disabilitas intelektual (DI). Tes IQ biasanya digunakan untuk memberikan diagnosis yang lebih akurat. Sehingga dapat dikatakan bahwa anak dengan keterlambatan perkembangan umum tidak selalu mengalami cacat intelektual (DI) di kemudian hari. Dalam hal ini, beberapa faktor risiko dan penyebab keterlambatan gangguan perkembangan umum, mulai dari faktor intrinsik seperti faktor genetik, metabolik, neurologis dan ekstrinsik seperti nutrisi dan stimulasi.

Ada beberapa jenis keterlambatan perkembangan yang umum terjadi pada anak yaitu keterlambatan kognitif, motorik, bahasa, sosial, emosional dan perilaku. Keterlambatan kognitif dapat mempengaruhi fungsi intelektual, menyebabkan kesulitan dalam belajar, kesulitan berkomunikasi dan bermain dengan orang lain. Keterlambatan keterampilan motorik mengganggu kemampuan anak untuk mengontrol otot di lengan, kaki, dan tangan. Keterlambatan perkembangan motorik pada bayi ditandai dengan kesulitan berguling atau merangkak. Sementara itu, anak yang lebih besar akan kesulitan melakukan tugas sehari-hari yang mendasar seperti memegang benda kecil atau menyikat gigi.

Penundaan sosial, emosional, dan perilaku mengganggu kemampuan anak untuk belajar, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain. Keterlambatan bahasa ditandai dengan keterlambatan bahasa reseptif dan ekspresif. Gangguan bahasa reseptif adalah suatu kondisi dimana seorang anak mengalami kesulitan memahami kata-kata yang diucapkan oleh orang lain. Anak menjadi sulit mengenali warna, bagian tubuh, atau bentuk. Sedangkan gangguan bahasa ekspresif ditandai dengan kurangnya kosakata dan kalimat yang kompleks untuk anak-anak seusianya. Anak menjadi lebih lambat dalam berbicara dan membuat kalimat.

Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk memiliki pengetahuan dasar tentang tumbuh kembang anak dan mendeteksi keterlambatan perkembangan dini yang terjadi pada anak sehingga intervensi dini dapat segera diberikan oleh para profesional seperti dokter dan psikolog. Intervensi dini dapat mencegah kondisi semakin parah dan anak dapat segera mendapatkan terapi atau pengobatan sesuai dengan jenis keterlambatan perkembangan anak.

Narasumber:

Margareth Rani R.S, M.Psi, Psikolog

Postingan Kenali Perkembangan Anak, Terlambat atau Pantas? muncul pertama kali di RS Awal Bros.

Leave a Reply